IWO Kepri : Viral Boleh, Etika Jangan Dikorbankan

Batam, BR – Ikatan Wartawan Online (IWO) Kepri meminta publik bijak menyikapi setiap pernyataan, yang disampaikan seseorang dan tidak terburu – buru menarik kesimpulan hanya dari potongan konten yang beredar di media sosial.

Hal itu disampaikan Ketua IWO Kepri, Aidil Fitra Nasution, menyikapi konten yang memuat ungkapan “Saya Lagi di Atas Perut” yang kemudian menjadi perhatian publik.

Menurut Aidil, kalimat tersebut pada dasarnya tidak serta – merta dapat dianggap sebagai sesuatu yang salah atau negatif. Sebuah ungkapan harus dilihat berdasarkan konteks, situasi serta maksud orang yang menyampaikannya.

“Kalimat ‘Saya Lagi di Atas Perut’ itu sendiri tidak ada yang salah. Bisa saja itu bagian dari candaan, kiasan atau ungkapan yang memiliki konteks tertentu. Jadi jangan langsung ditarik ke kesimpulan negatif,” tegas Aidil.

Ia mengingatkan, masyarakat juga harus bijak dalam menyikapi bahasa yang disampaikan seseorang. Tidak semua kalimat harus dimaknai secara harfiah, terlebih apabila disampaikan dalam suasana santai, candaan atau konteks tertentu.

“Kita harus bijak menyikapi bahasa seseorang. Jangan setiap kalimat langsung ditafsirkan ke arah negatif. Lihat dulu konteks dan maksudnya. Jangan sampai perbedaan tafsir justru merugikan orang lain,” ujarnya.

Aidil menilai, persoalan justru dapat muncul ketika sebuah pernyataan dipotong atau disajikan tanpa konteks yang utuh, sehingga publik kemudian melihatnya sebagai sesuatu yang negatif.

“Kalau sebuah ungkapan yang sebenarnya biasa saja, candaan atau kiasan, kemudian cara penyajiannya membuat publik menangkapnya sebagai sesuatu yang negatif, menurut saya itu tidak baik untuk konsumsi masyarakat. Bisa membentuk persepsi yang keliru terhadap seseorang,” katanya.

Menurutnya, media memiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik. Karena itu, setiap informasi yang disampaikan kepada masyarakat harus memperhatikan konteks, keberimbangan dan dampaknya.

IWO Kepri menegaskan, pihak yang dikaitkan dengan konten tersebut juga tidak seharusnya langsung menjadi sasaran penghakiman publik.

“Kita jangan buru – buru menghakimi. Kalau ada persoalan, mari lihat fakta dan konteksnya secara utuh. Jangan sampai seseorang dirugikan hanya karena sebuah kalimat yang bisa saja merupakan candaan atau kiasan,” tegas Aidil.

Di sisi lain, IWO Kepri tetap mengingatkan insan pers untuk menjaga profesionalitas dalam memproduksi dan menyajikan konten. Kebebasan pers dan kebebasan berekspresi merupakan bagian penting dalam demokrasi, tetapi harus berjalan bersama tanggung jawab.

“Kita mendukung kebebasan pers. Tetapi kebebasan itu juga harus disertai tanggung jawab. Wartawan boleh kritis dan tajam, namun informasi yang disampaikan kepada publik harus tetap proporsional dan tidak menggiring opini secara keliru,” pungkasnya.

Bagi IWO Kepri, viral bukan persoalan. Yang terpenting adalah bagaimana informasi disampaikan secara utuh, bijak, faktual dan bertanggung jawab.

Viral boleh. Berbeda tafsir boleh. Tetapi jangan sampai sebuah pernyataan yang belum tentu bermakna negatif, justru dibentuk menjadi negatif di mata publik.  (78). 

 

Red. 

Exit mobile version