Wagub Kepri Buka Dialog Wawasan Kebangsaan di Batam, Dorong Persatuan di Tengah Keberagaman

Batam, BR – Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Nyanyang Haris Pratamura, secara resmi membuka Dialog Wawasan Kebangsaan yang digelar Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Kekerabatan Sulawesi Selatan (DPP PKSS) bekerja sama dengan RRI Batam, Kamis (13/8) siang.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Politeknik Negeri Batam tersebut mengangkat tema “Perkuat Wawasan Kebangsaan Dalam Menjadi Karakter Anak Bangsa”.

Forum ini menjadi ruang untuk memperkuat kembali nilai persatuan, kebhinekaan serta karakter kebangsaan di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks.

Sejumlah tokoh turut hadir sekaligus menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Eks Kapolda Kepri Irjen Pol (Purn) Drs. Yan Fitri Halimansyah, S.H., M.H., Eks Gubernur Kepri Prof. Dr. Suryo Respationo, S.H., M.H., Direktur Politeknik Negeri Batam Ir. Bambang Hendrawan, S.T., perwakilan Lembaga Adat Melayu Batam M. Yunus, serta Sekjen DPP PKSS H. Masrur Amin, S.H., M.H.

Hadir pula Ketua DPP PKSS Akhmad Rosano beserta jajaran dan anggota PKSS, perwakilan Pemerintah Kota Batam, unsur Polresta Barelang, Kodaeral IV, Kodim 0316/Batam, paguyuban, LSM serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Ketua DPP PKSS Akhmad Rosano mengatakan kegiatan dialog wawasan kebangsaan tersebut, merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan PKSS di sejumlah tempat, termasuk di luar negeri.

” Hari ini DPP PKSS telah menggelar kegiatan dialog wawasan kebangsaan. Yang pertama kita selenggarakan di Kuala Lumpur Malaysia, di Johor Bahru kantor Konsulat RI, PKSS bekerja sama dengan RRI Nasional. Kedua kita gelar di Tanjungpinang, dan hari ini kita gelar di Batam,” ujar Akhmad Rosano.

Ia menyampaikan apresiasi kepada jajaran Forkopimda, serta seluruh tamu undangan yang telah hadir dan memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.

Menurutnya, dialog wawasan kebangsaan bukan sekadar forum diskusi, melainkan momentum untuk kembali mengingat jati diri sebagai anak bangsa.

” Kegiatan ini bukan sekadar forum dialog, namun momentum penting untuk kembali membuka, mengingat jati diri kita sebagai anak bangsa,” katanya.

Akhmad menegaskan, penguatan karakter kebangsaan menjadi semakin penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

” Kita sedang mempersiapkan Indonesia Emas 2045, Indonesia yang maju, kuat, dan memiliki karakter yang mendukung empat pilar, yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura mengatakan, dialog wawasan kebangsaan memiliki arti penting dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Ia berharap forum tersebut mampu mendorong seluruh elemen masyarakat, untuk terus memperkuat wawasan kebangsaan, menjaga keberagaman serta bersama – sama menangkal berbagai bentuk intoleransi dan radikalisme yang berpotensi memecah belah masyarakat.

” Melalui dialog wawasan kebangsaan ini saya berharap seluruh elemen masyarakat, dapat memperkokoh wawasan kebangsaan, modernisasi, keberagaman beragama, menangkal bersama – sama bentuk intoleransi, radikalisme yang dapat memecah belah,” terang Nyanyang.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan keberagaman, sebagai kekuatan dalam membangun daerah dan bangsa.

” Mari jadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun daerah, bangsa yang lebih baik,” ajaknya.

Nyanyang optimistis Kepulauan Riau dapat terus menjadi daerah yang aman, kondusif dan mampu menjadi contoh dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.

” Dengan semangat kebersamaan saya yakin Kepulauan Riau, akan terus menjadi daerah yang aman, kondusif dan menjadi teladan bagi Indonesia,” ucapnya.

Usai dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Kepri, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh para narasumber serta sesi tanya jawab bersama peserta.

Dialog tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum seremonial, tetapi dapat menjadi ruang untuk melahirkan pemahaman dan komitmen bersama.

Dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya di tengah keberagaman masyarakat Kepulauan Riau. (78). 

 

Red. 

Exit mobile version